Melatih ‘Otot’ Ikhlas

26 Oct Melatih ‘Otot’ Ikhlas

Sumber: http://www.pesona.co.id

Selama ini kita rajin berolah raga untuk melatih otot tubuh agar lebih sehat dan kuat. Begitu pula untuk bisa bersikap ikhlas, kita pun perlu melatih ‘otot’ ikhlas agar lebih siap menghadapi cobaan hidup.

Banyak orang bilang, untuk bersikap ikhlas itu sulit. Padahal kalau kita tahu caranya dan terus berlatih, hal ini akan menjadi mudah. Inilah yang saya pelajari dalam pelatihan Heart Focus yang diselenggarakan oleh Katahati Institute.
Kelas yang dipandu oleh Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute, membantu kita dalam mengelola emosi, termasuk belajar ‘letting go’. Kami diminta untuk mengistirahatkan otak kiri, agar otak kanan dapat lebih aktif bekerja. Artinya, kami dilarang untuk terlalu banyak berpikir dan menganalisis materi yang disampaikan. Cukup mendengarkan, melihat tayangan video, serta merasakan saja.

Pikiran punya daya tarik-menarik
Saya ingat pada pelajaran hari pertama, Mas Nunu (sapaan akrab Erbe Sentanu) mengingatkan sikap ikhlas itu bukan hanya di bibir saja, tetapi harus dipraktekkan. Pagi itu saat saya berangkat ke tempat pelatihan, saya sengaja tidak menyetir mobil sendiri dan memilih naik taksi. Selain malas bermacet-macet, saya bisa lebih rileks menikmati perjalanan.Saya pun memasrahkan sepenuhnya kepada supir taksi untuk memilih jalan. Saya hanya berpesan agar bisa tiba di tempat pelatihan tak lebih dari pukul 08.00.

Dalam perjalanan, saya memejamkan mata sambil berdoa dan mencoba untuk ikhlas, apapun yang akan terjadi. Saya ‘merasakan’ beberapa kali taksi berhenti atau tersendat karena macet. Saya mencoba fokus dan ’memeluk’ perasaan stres dalam hati, kemudian melepaskannya perlahan. Alhasil, percaya atau tidak, saya tiba di tempat pelatihan on time, pukul 08.00! Saya pikir, ini pelajaran ‘ikhlas’ pertama yang menyenangkan.

Pagi itu Mas Nunu bercerita tentang seorang temannya yang berjodoh dengan teman lamanya yang tinggal nun jauh di Hong Kong. Mereka lama tidak ada kontak, tapi tiba-tiba saja berhubungan secara intensif, sampai akhirnya menikah. Menurut Mas Nunu, pikiran atau perasaan kita memang punya daya elektromagnetik. Itulah sebabnya ketika kita sedang memikirkan atau punya perasaan tertentu terhadap seseorang, tiba-tiba saja orang tersebut menghubungi atau menelepon kita. Seperti telepati.

Aha! Mungkin inilah yang terjadi tadi pagi. Doa saya ‘tersambung’ dengan pikiran sang supir taksi, sehingga niat saya untuk datang tepat waktu terkabul. Saya baru yakin, betapa kuat pikiran dan perasaan kita terhadap sekeliling kita.

‘Mencabut’ akar nafsu
Sesi sangat menarik adalah membebaskan diri dari berbagai keinginan atau nafsu yang membelenggu kita. Semakin besar kita menginginkan sesuatu, semakin meyakinkan bahwa kita tidak memilikinya. Misalnya, ‘saya ingin kaya’, berarti kita belum kaya. Jika kita menghapus kata ‘ingin’, maka ‘saya kaya’. Itu berarti, kita perlu membebaskan diri dari keinginan yang membelenggu hidup. Kita harus mencabut ‘akar’ dari nafsu-nafsu kita.

Ada empat ‘akar’ utama yang perlu dicabut, yaitu: nafsu untuk mengendalikan, nafsu untuk dicintai/disukai, nafsu untuk diterima/disetujui, dan nafsu untuk selamat. Setiap orang memiliki keempat nafsu tersebut –biasanya salah satu ada yang dominan.

Kami diajak lagi untuk bermeditasi rasa guna ‘mencabut’ akar-akar nafsu tersebut. Ketika
meditasi berlangsung, terdengar suara isak tangis beberapa peserta. Hati saya juga mulai
tersentuh dan bergemuruh kencang saat proses ‘pencabutan’ nafsu ingin dicintai. Saya sadar, sikap dan tindakan saya terhadap beberapa orang masih dilumuri nafsu pribadi yang akhirnya membuat hati ini belum sepenuhnya ikhlas. Setelah ‘akar’ itu mulai tercabut, saya benar-benar merasa plong, ringan sekali.

Dan hebatnya, hanya dalam hitungan hari, saya sudah mengalami beberapa ‘pencerahan’.
Nama-nama yang dulu sempat saya doakan saat meditasi, seperti terkena ‘setrum’. Seorang teman yang tadinya selalu bersikap ‘dingin’, mendadak menyapa saya dengan ramah. Konflik dengan ayah saya mulai mereda karena sudah terbuka dialog. Hubungan dengan pasangan pun lebih harmonis, karena di hati saya tak ada lagi prasangka buruk. Saya pun tidak lagi memusingkan reaksi orang lain ketika saya ingin melakukan sesuatu. Sebaliknya, saya lebih fokus untuk menjaga kebersihan hati dan niat agar bisa berdamai dengan siapa pun. Ternyata kekuatan perasaan memang dahsyat, lebih dari yang pernah saya bayangkan!

Memang sulit mengurai perasaan dengan kata-kata, karena perasaan sejatinya memang untuk dirasakan. Melalui pelatihan ini, saya bisa merasakan kembali perasaan saya, perasaan orang lain, dan mendapat ilmu berharga untuk mengelola perasaan-perasaan negatif menjadi lebih baik. Tinggal selanjutnya bagaimana kita melatih ‘otot’ ikhlas itu, agar bisa membantu menghadapicobaan hidup kita dan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Shinta Kusuma

Mari Bergabung Bersama Katahati Institute

Dapatkan Informasi Terbaru Dari Katahati Institute yang Akan Mengubah Hidup Anda

Kami Menghargai & Menjaga Privasi Anda

No Comments

Post A Comment